Category: Fikrah +SANGfikir
-
Bab 7.2: Bicara Dua Jiwa – Jalan-jalan di Langit

Malam di kaki gunung itu tenang sekali. Awan tidak bergerak, angin pun seolah takut berbisik. Hanya bintang-bintang yang berkedip lembut, seperti mata yang mendengar rahsia. Sang Fikir dan Sang Bidadari duduk bersebelahan, tanpa suara. Cahaya bulan separa menimpa wajah mereka, dan bayang kedua-duanya terlukis panjang di tanah yang lembap. Setelah sekian lama diam, Sang Fikir…
-
Bab 7.1: Bicara Dua Jiwa – Di Bawah Langit yang Diam

Malam sudah lama turun. Langit yang luas terbentang bagai hamparan sutera hitam yang ditaburi permata. Sang Fikir duduk di beranda penginapan, menatap ke langit. Dari kejauhan, kedengaran bunyi cengkerik bersahut-sahutan, dan hembusan angin membawa bau tanah basah selepas hujan. Sang Bidadari duduk di sisi, diam. Matanya juga tertuju ke langit — pada bintang yang paling…
-
Bab 6: Bicara Dua Jiwa – Saat Cahaya Menemui Jalan

Sang Fikir: Bidadariku… kalau aku jujur, aku takut kehilangan cahaya ini. Bukan takut gelap di luar. Takut gelap di dalam. Yang diam-diam merayap ketika aku menulis, ketika aku bercakap, ketika aku merasa “aku sudah mengerti.” Itu yang menakutkan aku. Sang Bidadari: Takut itu tanda engkau masih hidup, kekandaku. Yang harus kau ingat: cahaya ini bukan…
-
Bab 5: Bicara Dua Jiwa – Dari Sunyi ke Syukur, Dari Nama ke Makna

Malam itu diam seperti kitab yang belum dibuka. Angin mengusap jendela, membawa gema lembut — bacaan Surah Ar-Rahman, yang berulang-ulang memanggil hati manusia: فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? [1](Surah Ar-Rahman, 55:13) Sang Fikir duduk bersandar di beranda, di sisi Sang Bidadari. Kedua-duanya sudah melalui perjalanan yang panjang…
-
Bicara Dua Jiwa – Bab 4: Salam untuk Semua Jiwa

Malam itu, hujan reda perlahan. Langit Segamat masih basah, dan dari tingkap kamar hotel itu, lampu jalan berkilau di atas jalan yang berair. Sang Fikir duduk di kerusi, memandang jauh, sementara Sang Bidadari berdiri di sisi jendela, memegang cawan teh yang sudah suam. Suasana senyap seketika — bukan sepi, tapi damai. Hanya bunyi kipas yang…
-
Bicara Dua Jiwa – Bab 3: Di Jalan Pulang ke Utara

Langit petang itu memantulkan cahaya keemasan di kaki Gunung Ledang. Kabut masih menggantung di puncak, seperti serban putih yang belum dibuka. Sang Fikir berdiri lama di situ — di tanah tinggi yang menjadi saksi masa kecilnya dari jauh. Dulu, dari Kampung Seri Menanti, dia akan memandang gunung ini ke arah barat-laut, dan setiap kali cahaya…
-
Bicara Dua Jiwa – Bab 2: Tentang Tanggungjawab dan Kejujuran

Malam itu, mereka masih duduk di beranda yang sama. Angin membawa bau hujan yang baru berhenti, dan di langit, bulan separuh memantul di atas takungan air. Sang Fikir mengangkat wajahnya, seolah berbicara dengan langit. Suara hujan yang menitis perlahan menjadi irama zikir dalam hatinya. Sang Fikir: “Sayangku, aku teringat sesuatu. Dulu, sewaktu aku mula belajar…
-
Bicara Dua Jiwa – Bab 1: Cahaya yang Menyapa Jiwa

Malam itu tidak sunyi, hanya terlalu tenang. Di atas meja, sebatang pena terbaring — sepi, seolah-olah menunggu seseorang memanggilnya dengan nama Tuhan. Dan di dalam dada Sang Fikir, gema wahyu pertama itu kembali bergetar lembut: اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. (Surah Al-‘Alaq 96 : 1) Sang Fikir: “Adindaku, ayat…

You must be logged in to post a comment.