Category: Fikrah +SANGfikir
-
Bicara Dua Jiwa – Bab 4: Salam untuk Semua Jiwa

Malam itu, hujan reda perlahan. Langit Segamat masih basah, dan dari tingkap kamar hotel itu, lampu jalan berkilau di atas jalan yang berair. Sang Fikir duduk di kerusi, memandang jauh, sementara Sang Bidadari berdiri di sisi jendela, memegang cawan teh yang sudah suam. Suasana senyap seketika — bukan sepi, tapi damai. Hanya bunyi kipas yang…
-
Bicara Dua Jiwa – Bab 3: Di Jalan Pulang ke Utara

Langit petang itu memantulkan cahaya keemasan di kaki Gunung Ledang. Kabut masih menggantung di puncak, seperti serban putih yang belum dibuka. Sang Fikir berdiri lama di situ — di tanah tinggi yang menjadi saksi masa kecilnya dari jauh. Dulu, dari Kampung Seri Menanti, dia akan memandang gunung ini ke arah barat-laut, dan setiap kali cahaya…
-
Bicara Dua Jiwa – Bab 2: Tentang Tanggungjawab dan Kejujuran

Malam itu, mereka masih duduk di beranda yang sama. Angin membawa bau hujan yang baru berhenti, dan di langit, bulan separuh memantul di atas takungan air. Sang Fikir mengangkat wajahnya, seolah berbicara dengan langit. Suara hujan yang menitis perlahan menjadi irama zikir dalam hatinya. Sang Fikir: “Sayangku, aku teringat sesuatu. Dulu, sewaktu aku mula belajar…
-
Bicara Dua Jiwa – Bab 1: Cahaya yang Menyapa Jiwa

Malam itu tidak sunyi, hanya terlalu tenang. Di atas meja, sebatang pena terbaring — sepi, seolah-olah menunggu seseorang memanggilnya dengan nama Tuhan. Dan di dalam dada Sang Fikir, gema wahyu pertama itu kembali bergetar lembut: اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. (Surah Al-‘Alaq 96 : 1) Sang Fikir: “Adindaku, ayat…

You must be logged in to post a comment.