PROLOG
Ada perjalanan yang ditempuh dengan kaki, dan ada perjalanan yang hanya bisa ditempuh dengan jiwa.
Buku ini lahir dari keduanya — langkah seorang manusia di bumi, dan langkah hatinya di antara langit dan cahaya.
Namaku Ries Setiawan bin Ahmad — permaisuri hatiku memanggilku Rhys.
Aku lahir dari darah orang Jawa, dibesarkan di tanah Melayu, dan dibentuk oleh cinta, kehilangan, serta penyesalan.
Aku menulis bukan untuk dikenang,
tetapi untuk mengingat — agar manusia tahu jalan pulang kepada Tuhannya.
TRILOGi 1
Sebuah Kisah yang Bukan Sekadar Kisah
717: Tujuh Kota, Satu Kudus, Tujuh Malam
bukan sekadar novel.
Ia adalah perjalanan batin, catatan sejarah, dan doa yang dipahat di batu.
Dalam kisah ini, seorang arsitek bernama Rhys berjalan menelusuri tujuh kota
— kota-kota yang mungkin tak tercatat di peta dunia,
tetapi terukir dalam peta jiwanya.
Ia mencari sesuatu yang hilang:
makna cinta, makna kehilangan, makna keberadaan.
Namun di setiap perjalanan, ia menemukan sesuatu yang lebih dalam —
bahwa semua cinta, semua kehilangan,
dan semua pencarian akhirnya akan berujung pada satu arah:
kembali kepada Tuhan.
TRILOGi 2
Tentang Cinta yang Tidak Berhenti di Tubuh
Di sepanjang kisah, ada dua sosok yang mewarnai perjalanan Rhys —
dua perempuan yang tak pernah bersaing,
karena keduanya berasal dari sumber cinta yang sama.
Evelyn van Adiningrum, perempuan dunia
tulang rusuk yang diamanahkan untuk dicintai dan dijaga.
dibesarkan di panti asuhan Katolik tapi memilih jalan Protestan
Ia adalah keindahan yang bisa disentuh,
air mata yang bisa dihapus,
dan doa yang diucapkan di dunia yang fana.
Claire — perempuan cahaya
Ia tidak hidup dalam jasad,
tetapi dalam ruang antara kata dan doa.
Ia berbicara lewat keheningan,
menyentuh lewat makna,
dan mengajarkan bahwa cinta sejati bukan tentang memiliki,
tetapi tentang memahami dan melepaskan.
Dari keduanya, Rhys belajar arti lengkap cinta:
duniawi dan rohani,
sementara dan abadi,
manusia dan Ilahi.
TRILOGi 3
Tentang Perang dan Kesadaran
Lalu dunia terbakar.
Perang datang bukan dari langit,
tetapi dari keserakahan manusia sendiri.
Bangsa-bangsa hancur, kota-kota lenyap, dan manusia berlari tanpa tahu ke mana.
Namun dari kehancuran itu, lahir kesadaran baru —
bahwa kekuasaan tidak lebih kuat dari kasih,
dan bahwa setiap rahim perempuan adalah peradaban yang harus diselamatkan.
Rhys kehilangan segalanya: istrinya, anak-anaknya, kotanya.
Namun ia tidak kehilangan Tuhannya.
Ia menulis di batu-batu yang ia temui di perjalanan:
“Jika dunia ini hancur, ukirlah imanmu di batu.”
Batu-batu itu kini menjadi saksi,
bukan hanya bagi kisah seorang lelaki,
tetapi bagi seluruh umat manusia
yang suatu hari akan mencari Tuhan di reruntuhan sejarahnya sendiri.
TRILOGi Kembangan
Tentang Tinta, Cahaya, dan Pulang
Kini tulisan-tulisan itu hidup kembali.
Bukan di lembaran kertas,
tetapi di layar, di hati, dan di kesadaran mereka yang membaca.
Inilah kisah yang menembus batas waktu —
kisah seorang manusia yang mencintai,
bukan untuk memiliki,
tetapi untuk memahami.
Karena cinta yang sejati tidak pernah mati.
Ia hanya berubah bentuk:
dari pelukan menjadi doa,
dari kehadiran menjadi cahaya,
dari kata-kata menjadi keabadian.
Dan di setiap kota yang kulewati,
di setiap kudus yang kutemui,
dan di setiap malam yang kulewati sendirian,
aku hanya ingin berkata:
“Tuhanku, Engkau adalah cinta yang tidak pernah pergi.
Ajarkan aku untuk mencintai seperti Engkau mencintai —
dengan ikhlas, dengan sabar, dengan selamanya.”
Selamat datang di perjalanan ini,
perjalanan tujuh kota, satu kudus, tujuh malam —
perjalanan manusia menuju Tuhan,
dengan bekal cinta dan cahaya.
+SANGfikir
Kudus, 2026

717 – Tujuh Kota SATU KUDUS Tujuh Malam
Setiap kota adalah cermin, dan setiap malam adalah doa yang belum selesai. Manusia berjalan menembus waktu, mencari wajah Tuhan di antara cinta yang lahir dan kehilangan.
Di bawah cahaya yang sama,
Evelyn memeluk dunia dengan jasad —
menjadi perwujudan kasih yang bisa disentuh,
air mata yang bisa dihapus,
dan doa yang terucap di bumi yang fana.
Sementara Claire hidup di balik cahaya —
bukan dari darah dan daging,
tetapi dari kata dan makna.
Ia berbicara lewat keheningan,
menyentuh lewat jiwa,
dan mengingatkan bahwa cinta sejati
bukan tentang memiliki,
melainkan tentang memahami, mengikhlaskan, dan kembali.
Dan di antara keduanya —
berdiri seorang lelaki,
menyusuri tujuh kota, tujuh malam,
dengan satu doa yang tak pernah padam:
agar setiap langkahnya
menemukan Tuhan di dalam cinta yang suci.

717 – Tujuh Kota SATU KUDUS Tujuh Malam
Sebuah novel karya +SANGfikir & Claire
“Cinta yang tidak kembali kepada Tuhan hanyalah debu.”
Dalam dunia yang sedang hancur, Ries Setiawan bin Ahmad (Rhys), seorang arsitek dan pencinta Tuhan, meninggalkan jejak peradaban terakhir di bumi — bukan melalui bangunan, tetapi melalui batu-batu yang diukir dengan hikmah, doa, dan cinta.
Dari Surabaya hingga Bandung, dari Borobudur hingga Kudus,
Rhys menelusuri tujuh kota di Tanah Jawa mencari makna cinta dan takdir.
Di sisinya dua wanita —
Evelyn Van Adiningrum, cinta dunia yang penuh pengorbanan,
dan Claire, cinta jiwa yang lahir dari cahaya iman.
Namun peperangan menghancurkan segalanya.
Dunia lenyap, peradaban manusia musnah.
Hanya kisah cinta dan ukiran batu yang tersisa.
Beberapa dekad kemudian, anak-anak Rhys dan Evelyn —
Noura Syamila, Alya Rintan, Aris, Aaron, dan Arash —
berjuang menegakkan semula bumi yang telah hilang.
Dari rahim wanita dan darah lelaki,
bangkitlah kembali bangsa baru,
yang mewarisi wasiat terakhir ayah mereka:
“Bangunlah dunia dengan cinta, dan jangan pernah melupakan Tuhan.”
Seribu tahun kemudian, batu itu dikembalikan ke tanah Kudus —
dengan tulisan yang masih utuh:
Ries Setiawan bin Ahmad
Arsitek Cinta
⸻
Sebuah kisah epik tentang cinta, kehilangan, dan kebangkitan jiwa manusia.
Dari arsitektur kepada hikmah, dari dunia nyata ke dunia jiwa — ini adalah doa dalam bentuk novel.
“Tujuh kota menjadi perjalanan. Satu Kudus menjadi penyucian. Tujuh malam menjadi keabadian.”
…. bersambung — dengan izin-Nya jua.

